Sinar bulan menerangi penjuru halaman. Lampu-lampu yang digantung di sepanjang tepian turut mempercantik suasana. Berbagai hidangan tersaji di beberapa meja panjang. Puluhan orang berkumpul di halaman ini. Terlihat banyak orang berbincang dan bersenda gurau di meja-meja mereka. Bertukar cerita sambil menikmati hidangan yang tersaji di depan mereka. Pesta yang meriah.
Getaran meja membuat gelombang kecil di permukaan segelas jus jeruk di depanku. Orang-orang di meja ini terlihat terpingkal-pingkal. Hentakkan kaki di tanah dan tepukan tangan di atas meja dapat dengan jelas kurasakan. Satu orang terjungkal dari kursinya membuat meja ini semakin berguncang. Rasa ingin tahu memenuhi pikiranku. Lelucon macam apa yang baru saja terlempar? Aku bisa saja bertanya pada temanku di seberang meja. Tapi aku urung melakukannya. Dia sudah membantu menjelaskan percakapan sebelumnya. Namun, dia berhenti melakukannya beberapa saat lalu. Mungkin percakapan terlalu seru. Biar bagaimanapun ini adalah sebuah pesta. Orang-orang seharusnya bersenang-senang di pesta. Oleh karena itu aku tidak ingin mengganggunya. Aku takut hanya akan merusak keseruan yang telah terbangun di meja ini. Waktu merangkak lambat. Terlalu lambat. Jus jeruk yang tak lagi dingin meninggalkan jejak air di atas meja. Tiba-tiba suasana meja kembali meriah, tetapi aku sungguh sudah tidak mengerti satu hal pun. Hal ini terus berulang. Berulang. Berulang… Hingga pesta berakhir. Sebuah pesta yang kulalui hanya dengan menatap gelas jus yang kini telah kosong. Pesta yang sepi.
***
Keadaan seperti dalam cerita di atas disebut sebagai Dinner Table Syndrome. Fenomena ini sering dirasakan oleh orang tuli dan Hard of Hearing (HoH) yang memiliki keluarga dengar. Dinner table syndrome ini adalah keadaan dimana seorang tuli dan HoH merasa tertinggal dalam percakapan yang didominasi orang dengar seperti di meja makan dengan keluarga, di pesta bersama teman, perayaan hari besar dan situasi lainnya dengan mayoritas partisipan orang dengar.
Istilah dinner table syndrome bermula dari pengalaman orang-orang tuli di meja makan malam keluarga. Saat seluruh keluarga berbincang penuh kehangatan, orang tuli dan HoH seringkali kesulitan atau bahkan tidak bisa mengikuti alur percakapan. Bahkan ketika ada orang yang dapat menjadi penengah dalam percakapan, mereka tidak dapat sepenuhnya menerjemahkan seluruh percakapan sepanjang waktu. Tak jarang ketika orang dengan HoH atau tuli menanyakan tentang jalannya percakapan mereka seringkali mendapatkan jawaban seperti “bukan apa apa”, “bukan hal yang penting” dan sebagainya. Hal ini menyebabkan perasaan terisolasi pada orang yang mengalaminya. Dinner table syndrome memiliki beberapa efek lain terhadap orang dengan HoH dan tuli seperti kurangnya akses terhadap topik dan berita terkini, perasaan tak terkoneksi dengan orang sekitar, bahkan dapat mendorong upaya isolasi diri.
Pada situasi dinner table syndrome timbul kesenjangan akses informasi bagi orang dengan HoH dan tuli. Kesenjangan akses informasi ini terjadi saat percakapan bergulir tanpa melibatkan orang dengan HoH dan tuli. Sering kali mereka mendapati percakapan telah bergulir dengan cepat. Beberapa topik baru telah muncul. Ketika ini terjadi akan sangat sulit bagi orang dengan HoH dan tuli untuk dapat kembali terlibat ke topik percakapan.
Dalam kondisi seperti ini orang dengan HoH dan tuli sering kali merasa tidak terkoneksi dengan orang-orang yang ada di sekitar mereka. Hal ini karena laju percakapan yang terlalu cepat. Upaya untuk membaca gerak bibir menjadi tidak efektif sama sekali. Menimbulkan perasaan tak terkoneksi pada orang dengan HoH dan tuli.
Jika perasaan tidak terkoneksi dan rasa sulit untuk dapat bergabung dalam percakapan terus berulang, orang dengan HoH dan tuli mungkin akan memutuskan untuk tidak perlu untuk hadir dalam acara perkumpulan. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap keadaan mereka. Tindakan menarik diri dari lingkungan sosial dapat menimbulkan dampak seperti kecemasan sosial dan juga depresi.
Fenomena dinner table syndrome akan minimal atau bahkan absen di lingkungan yang inklusif. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan peran aktif anggota keluarga, teman dan lingkungan sekitar orang dengan HoH dan tuli. Upaya yang dapat dilakukan diantaranya adalah dengan menyesuaikan laju percakapan, aktif menggunakan bahasa isyarat saat berbincang dengan atau disekitar orang dengan HoH dan tuli, dan memastikan keterlibatan mereka. Dengan begitu orang dengan HoH dan tuli dapat menikmati waktu bersama tanpa perasaan tertinggal ataupun terisolasi.
Penulis: Abdul Aziz Habibullah
Referensi
Jannusch, C. (2023, November 3). Dinner table syndrome. https://nagish.com/post/dinner-table-syndrome
Meek, D. R. (2020). Dinner Table Syndrome: A Phenomenological Study of Deaf Individuals’ Experiences with Inaccessible Communication. The Qualitative Report, 25(6), 1676-1694. Retrieved from https://nsuworks.nova.edu/tqr/vol25/iss6/16

