Dengarkan, Jangan Hanya Melihat!: Melawan Miskonsepsi terhadap Disabilitas tak Kasat Mata (Invisible Disability)

Don’t judge book by its cover,” Siapa yang belum pernah mendengar kutipan ini? Secara umum, kutipan tersebut mengingatkan kita untuk tidak menilai suatu hal hanya berdasarkan penampilan luarnya saja. Kutipan ini sering digunakan dalam konteks pembelaan apabila seseorang dalam suatu hal diremehkan sebab penampilan luarnya saja. 

Masih membahas kutipan yang sama, dalam kehidupan sosial kita terdapat pula hal-hal seperti ini yang dapat merugikan seseorang atau suatu kelompok orang sehingga dapat menghambat terciptanya lingkungan sosial yang harmonis serta inklusif di sekitar kita. Kebanyakan orang masih menilai orang lain sekadar dari penampilan luarnya saja. Jika seseorang terlihat ’normal’ seperti dirinya, maka ia akan menilai orang tersebut memiliki kemampuan dan kapasitas yang sama setara dengannya. Sebaliknya, jika seseorang terlihat mengalami disabilitas tertentu, mereka akan memahami bahwa orang tersebut memiliki kemampuan dan kapasitas yang berbeda dibandingkan dengan dirinya.

Sebetulnya pandangan seperti itu tidaklah sepenuhnya dapat disalahkan, mengingat tidak mungkin bahwa seseorang dapat memahami apa yang dialami oleh orang lain secara langsung, terlebih jika hanya melalui pengamatan sesaat. Namun, yang harus ditekankan disini adalah bahwa tidak selamanya yang terlihat dari luar itu selalu benar. Banyak hal yang tidak dapat kita lihat dalam diri orang lain kecuali jika kita benar-benar berusaha memahami orang tersebut. Hal itulah yang merupakan dasar untuk memahami orang dengan kondisi invisible disability.

Asosiasi Disabilitas Tidak Kasat Mata atau Invisible Disability Association mendefinisikan Disabilitas tidak kasat mata sebagai gejala seperti nyeri yang melemahkan, kelelahan, pusing, disfungsi kognitif, cedera otak, kesulitan belajar dan gangguan kesehatan mental, serta gangguan pendengaran dan penglihatan. Gejala-gejala tersebut cenderung tidak terlihat di mata orang lain, namun dapat membatasi aktivitas sehari-hari orang yang mengidapnya.

Karena kondisi disabilitas mereka tidak terlihat di mata orang lain, mereka sering menjadi kelompok yang sangat dipinggirkan dalam kehidupan sosial. Akibatnya, mereka terkendala dalam memperoleh kebutuhan untuk menunjang aktivitas kehidupan sehari-hari mereka. Hal tersebut dapat terjadi sebab adanya miskonsepsi oleh orang-orang pada umumnya mengenai apa itu disabilitas. Mereka menganggap semua jenis disabilitas dapat terlihat dari luarnya saja seperti misalnya pengguna kursi roda. 

Banyak bentuk miskonsepsi atau kesalahpahaman orang terhadap kelompok disabilitas khususnya untuk disabilitas tak kasat mata. Berikut beberapa bentuk miskonsepsi tersebut yang paling umum:

  1. “Kamu Terlihat Baik-Baik Saja” 

Salah satu miskonsepsi paling umum adalah anggapan bahwa jika seseorang terlihat sehat, maka mereka pasti tidak memiliki masalah. Komentar seperti, “Kamu tidak terlihat sakit,” atau “Kamu terlalu muda untuk merasa lelah,” sering kali diucapkan tanpa menyadari bahwa kondisi disabilitas tidak selalu terlihat secara fisik. Hal ini dapat membuat penyandang disabilitas merasa tidak diakui atau dianggap mengada-ada.

  1. Disabilitas Hanya Terkait dengan Fisik

Banyak orang menganggap disabilitas hanya berkaitan dengan keterbatasan fisik yang terlihat. Padahal, disabilitas juga mencakup kondisi mental dan emosional yang bisa sama-sama melemahkan. Kurangnya pemahaman ini membuat penyandang disabilitas tidak kasat mata kesulitan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan.

  1. Menganggap Mereka Tidak Berusaha Cukup Keras

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa penyandang disabilitas tidak kasat mata hanya perlu “berusaha lebih keras” untuk mengatasi tantangan mereka. Misalnya, seseorang dengan ADHD mungkin dianggap malas atau tidak disiplin, padahal mereka sedang berjuang dengan kondisi yang mempengaruhi kemampuan konsentrasi mereka.

  1. Stigma Terkait Kondisi Mental

Disabilitas tidak kasat mata yang berkaitan dengan kesehatan mental, seperti depresi atau gangguan kecemasan, sering kali dianggap sebagai kelemahan pribadi atau sekadar fase yang akan berlalu. Stigma ini membuat banyak orang enggan mencari bantuan atau berbicara terbuka tentang kondisi mereka.

 

Penulis: Farand Hafiz

 

REFERENSI

Disabled World. (2025). Invisible Disabilities: List and General Information. Diambil dari https://www.disabled-world.com/disability/types/invisible/

Risdani, Sasya Yovanka. (2024). Invisible Disability: Terjebak Dalam Kalimat “Kamu Terlihat Baik-Baik Saja”. Diambil dari https://pedulidifabel.ukm.ugm.ac.id/2024/05/25/invisible-disability-terjebak-dalam-kalimat-kamu-terlihat-baik-baik-saja/

Hidden Disabilities Sunflower. (2024). Non-visible disabilities. Diambil dari https://hdsunflower.com/uk/insights/category/invisible-disabilities

Invisiible Disabilities Association. Invisible Disability. Diambil dari https://invisibledisabilities.org/what-is-an-invisible-disability/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top