Dari Keyboard hingga Subtitle: Desain Inklusif Selalu Relevan untuk Semua Orang

Saat kamu lagi asyik chatting-an sama teman, mengerjakan tugas di laptop, atau sekadar meninggalkan komentar di postingan Instagram, pernah nggak terpikirkan “dari mana asal-usul deretan huruf di keyboard ini?”

Ternyata, keyboard bukan lahir dari eksperimen di laboratorium teknologi yang canggih, melainkan dari sebuah bentuk kepedulian. Pada tahun 1808, Pellegrino Turri, seorang mekanik berkebangsaan Italia, menciptakan prototipe mesin tik pertama di dunia. Mesin tik itu dibuat untuk sahabatnya, Countess Carolina Fantoni, yang merupakan seorang disabilitas netra. Turri menciptakan mesin tik agar Carolina bisa menulis surat secara pribadi tanpa harus mendiktekannya kepada orang lain. Meskipun mesin tik karya Turri ini masih berbentuk prototipe dan tidak diproduksi masal, ide inovatif ini menjadi pemantik utama bagi pengembangan mesin tik dan keyboard yang kita gunakan di masa sekarang.

[Pellegrino Turri. Sumber: durgod.com]

 

Sejarah singkat di atas adalah salah satu dari contoh fenomena Curb-cut Effect. Istilah ini merujuk pada suatu penemuan atau tindakan yang semula dirancang untuk membantu teman disabilitas, namun pada akhirnya memberikan dampak yang lebih luas ke banyak orang.

Istilah Curb-cut Effect diambil dari curb-cut itu sendiri, yakni sebuah struktur bangunan berupa bidang miring yang digunakan untuk menurunkan bagian trotoar yang berbeda elevasi atau ketinggiannya agar dapat sejajar dengan jalan raya. Struktur ini dibangun untuk memudahkan teman disabilitas daksa berkursi roda ketika hendak menuruni trotoar. Kini struktur curb-cut juga tidak hanya membantu teman disabilitas daksa berkursi roda saja, tetapi juga turut memudahkan pesepeda, orang tua yang mendorong baby stroller, atau sekadar orang yang bepergian membawa koper.

[Struktur curb-cut. Sumber: encorekalamazoo.com]

 

Perlu diingat pula bahwa keberadaan curb-cut tidak hadir secara tiba-tiba lewat kebijakan yang cuma-cuma. Menarik ke belakang pada era 1970-an di Berkeley, California, seorang aktivis gigih bernama Hale Zukas bersama rekan-rekan seperjuangannya harus berhadapan langsung melawan tingginya trotoar yang menghambat mobilitas sehari-hari mereka. Lama-kelamaan, mereka merasa dipinggirkan oleh infrastruktur kota yang membuat mereka tidak dapat beraktivitas dengan aman dan mandiri. Akhirnya, mereka melakukan aksi nekat di kegelapan malam dengan membongkar trotoar dan menyemen sendiri bidang miring tersebut secara mandiri. Langkah berani ini akhirnya membuka mata Pemerintah Negara Bagian California akan hak kesetaraan akses di ruang publik.

[Foto aktivis Hale Zukas. Sumber: 99percentinvisible.org]

 

Contoh lainnya dari Curb-cut Effect adalah subtitle atau takarir yang ada pada tayangan film maupun video. Subtitle awalnya dibuat untuk membantu teman disabilitas tuli dan Hard of Hearing  memahami percakapan atau ucapan yang ada di dalam film. Namun, sekarang fungsinya lebih dari sekadar membantu teman disabilitas tuli, subtitle  juga digunakan untuk menerjemahkan percakapan berbahasa asing dalam film dan memberikan caption untuk video-video pendek di konten sosial media. Bayangkan betapa sulitnya kita untuk memahami film berbahasa asing atau menonton video pendek di keramaian jika tidak ada subtitle.

Berbagai inovasi dan penemuan tersebut awalnya dibuat untuk membantu teman-teman disabilitas dalam menjalani aktivitas keseharian mereka dan ternyata output manfaatnya bisa dinikmati oleh banyak orang. Pada akhirnya, pembangunan ruang dan fasilitas inklusif bukan sekadar upaya memenuhi syarat administrasi atau sekadar mengejar standar formalitas belaka. Ruang inklusif yang didesain dengan baik dan tulus justru akan memberikan manfaat yang jauh melampaui tujuan awalnya. Ketika kita mendesain dunia untuk mereka yang paling sering terpinggirkan, kita sebenarnya sedang membangun dunia yang lebih nyaman, lebih cerdas, dan lebih manusiawi untuk semua orang tanpa terkecuali.

Jadi, ketika kamu melihat kembali deretan huruf dan angka di ponsel atau keyboard laptopmu, ingatlah bahwa teknologi tersebut lahir dari kepedulian untuk teman-teman disabilitas. Kemudahan hidup yang kita rasakan sekarang berakar dari kemauan untuk membuat ruang yang inklusif bagi semua orang.

 

Penulis: Dimas Mukris Iriyanto

 

Daftar Pustaka:

99% Invisible. (2018, May 1). Curb cuts. https://99percentinvisible.org/episode/308-curb-cuts/

Aksesibel.id. (2025, December 18). Desain universal. https://aksesibel.id/belajar/aksesibilitas/pendekatan/universal

Blackwell, A., & Colligan, S. (2026, February 12). How building with people who face barriers benefits everyone, especially during crises. The Conversation. https://theconversation.com/how-building-with-people-who-face-barriers-benefits-everyone-especially-during-crises-274279

Glover, A., & Blackwell, A. (2017). The curb-cut effect. Stanford Social Innovation Review. https://ssir.org/articles/entry/the_curb_cut_effect

Typewriters.com. (2024, May 15). Journey through typewriter evolution: From inception to modern designs. https://typewriters.com/blogs/journey-through-typewriter-evolution-from-inception-to-modern-designs/

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top